Dewasa ini sekarang lebih pesat dengan berkembangnya teknologi, ekonomi, dan basisi pendidikan semangkin pesat, dengan adanya hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan misalnya sudah di ciptakan oleh negara maju yang mulai menjuntai keras. Atas dasar-dasar ilmu pendidikan sebagai sarana pendukung untuk pendidikan dan dan peserta didik, tidak hanya itu para intelek muda semangkin berjerih payah dalam mengembangkan dan berlomba-lomba untuk aplikasi sebagai pendukung jalannya pendidikan. Tentu sudah kita ketahui di era Pandemi COVID-19 memang banyak membuat kerusuhan di berbagai bidang dari sektor ekonomi, pertanian, industri, dan pendidikan di dunia khususnya tanah air ini.
Namun, dari semua hal tersebut dapat kah kita menjadi era ini sebagai zaman Reformasi. Dalam segi pendidikan misalnya sangat menimbulkan kesan yang sang negatif dan positif pula, Memang tujuan pemerintah dalam hal mengantisipasi penyebaran Rantai penyebaran virus Corona ini sangat lah baik. Dengan mengeluarkan peraturan baru agar semua masyarakat dapat disiplin dalam mengedepankan kesehatan bersama secara umum. Berbagai semi pembelajaran yang dikembangkan oleh civitas pendidikan dari sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas dan perguruan tinggi mogok total.
Jika kita melihat problem solving yang sekarang terjadi membuat para pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran, tidak langsung berjalan dengan sempurna. Dengan berbagai kendala yang membuat para peserta didik tidak konsisten dalam sistem pembelajaran di kelas online. Secara tidak langsung para peserta didik tertinggal dalam hal pengayoman dari pendidik, sungguh suatu hal yang sangat membingungkan. Memang pendidikan di zaman lampau sangat kurang tersentuh dari teknologi informasi seperti sekarang. Namun jika kita telaah lebih jauh, dengan adanya pendidikan yang secara harfiah memang bersal dari suatu bentuk rasa cinta dari pendidik terhadap perserta didik. Tidak dipungkiri lagi, toh meskipun zaman perkembangan pendidikan era kerajaan Hindu, bhudda, dan Islam, sampai pada tahun 30-90 an memang sangat telaten dalam mengembangkan potensi, minat, bakat, dan kualitas memang sudah ditanamkan sejak kecil.
Baca Juga :
Sistem pendidikan semenjak periode awal berkembangnya agama Hindu-Budha di Indonesia sepenuhnya sudah bermuatan keagamaan. Pelaksanaan pendidikan keagamaan Hindu-Budha berada di padepokan-padepokan. Ajaran Hindu-Budha ini memberikan corak praktik pendidikan di zaman kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Kerajaan Kutai (Pulau Kalimantan), Kerajaan Tarumanegara hingga Majapahit (Pulau Jawa), Kerajaan Sriwijaya (Pulau Bali dan Sumatera). Kaum Brahmana pada masa Hindu-Budha merupakan kaum yang menyelenggarakan pendidikan dan pelajaran. Maka perlu diketahui bahwa sistem kasta yang diterapkan di Indonesia tidak terlalu keras seperti sistem kasta yang ada di India. Adapun beberapa materi-materi yang dipelajari ketika pendidikan keagamaan Hindu-Budha berlangsung, yaitu teologi (ilmu agama), bahasa dan sastra (ilmu kecakapan), ilmu-ilmu kemasyarakatan (ilmu sosial), ilmu-ilmu eksakta (ilmu perbintangan), ilmu pasti yaitu (perhitungan waktu, seni bangunan, seni rupa), dsb.
Beralih pada tahun 1500 an awal mula masuk pendidikan Islam kenusantara, Ajaran agama Islam awal berkembang di kawasan pantai pesisir, sementara ajaran agama Hindu masih kuta di kawasan pedalaman. Kerajaan Samudra-Pasai (1297) di Indonesia menjadi kerajaan Islam pertama lebih tepatnya Aceh. Jauh sebelum Kerajaan Samudra-Pasai berdiri pengaruh ajaran Islam sudah masuk terlebih daulu ke Indonesia. Terbukti dengan adanya batu nisan seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun pada tahun 476 H (1082 M) di Leran, dekat Gresik Jawa Timur. Pada masa pra-kolonial pendidikan agama Islam berbentuk pendidikan di pesantren, pendidikan di musola/langgar dan pendidikan di madrasah. Pertama, Pendidikan di musola/langgar dilaksanakan secara sederhana dengan binaan guru mengaji yang memiliki status dibawah kyai, materi yang diajarkan membaca Al-Qur’an dan Fiqih Dasar. Kedua, Pendidikan di pesantren memiliki sistem pendidikan pemondokan sederhana, materi pembelajaran bersifat khusus (keagamaan), penghormatan tertinggi kepada guru, tidak ada gaji untuk guru karena memotivasi santri semata-mata karena Allah SWT., dan santri datang untuk menuntut ilmu secara suka rela. Ketiga, pendidikan di madrasah memiliki sistem pendidikan yang mengajarkan agama dan ilmu pengetahuan seperti astronomi (ilmu falak), dan ilmu pengobatan. Ketiga sistem pendidikan Islam ini tetap bertahan sejak datangnya kolonial Belanda hingga saat ini.
Dari sejarah historis perkembangan pendidikan dari massa kemasan dapat kita pahami, bahwasanya dengan sistem pendidikan Nasional yang mangkin berkembang tentunya dapat kita pahami dan cermati secara independen dan kritis. Dari berbagai hal diatas tak dapat dipisahkan dari yang namanya pengarahan dan ayoman dari orang tua serta guru dalam menggembleng perserta didik agar berkembang menjadi penerus bangsa yang kreatif, inovatif, produktif dan berprestasi untuk membawa bangsa ini ke massa depan yang lebih baik.
Penulis : Abdul Wafi ( Ketua Bidang 1 Kaderisasi dan Keilmuan PR PMII Avicenna)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar