Rabu, 09 Desember 2020

Apakah Tuhan Bersalah ?

Berbicara tentang Hak Asasi Manusia (HAM) ketika melihat situasi dan kondisi saat ini tentu banyak orang yang sepertinya sudah mulai membisukan suaranya  tentang bagaimana kita menyikapi adanya HAM ini. Seolah kita hanya mengetahui eksistensi yang melekat pada HAM tanpa kita mempelajari sebetulnya apa esensi dari HAM itu sendiri. Ketika kita menilik lagi tentang sejarahnya bahwa sejarah HAM tersebut berasal dari dunia barat (Eropa) yang diprakarsai oleh seorang filsuf Inggris yang bernama John Locke. Dia merumuskan adanya hak alamiah (natural right) yang melekat pada manusia, yaitu hak atas hidup, hak kebebasan dan hak milik.

Sejarah perkembangan HAM ditandai dengan adanya tiga peristiwa penting yang ada  di dunia barat seperti Magna Charta (1215), Revolusi Amerika (1776) dan Revolusi Perancis. Yang mana dari ketiga gerakan tersebut merupakan suatu bentuk keinginan untuk merubah tatanan ketidakadilan atau dapat juga disebut sebagai pembelaan atas kemaslahatan dan rasa merdeka yang harus dimiliki oleh masyarakat. Sehingga sejak abad ke-20 muncullah konsep hak asasi yang terdiri dari empat macam kebebasan (The Four Freedom). Yang mana konsep tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Amerika Serikat, Franklin D Rooselvet yang meliputi : (a) kebebasan untuk beragama / freedom of religion; (b) kebebasan untuk berbicara dan berpendapat / freedom of speech; (c) kebebasan dari kemelaratan / freedom from want; (d) kebebasan dari ketakutan / freedom from fear. 

 Di Indonesia sendiri perkembangan HAM terdiri dari beberapa periode yang diantaranya, periode sebelum kemerdekaan yang mana pada zaman dulu bermunculan organisasi-organisasi seperti Budi Oetomo (1908), Indische Partij (1912), Partai Nasional Indonesia (1927). Organisasi maupun partai tersebut itu muncul karena pada zaman itu masih banyak terjadi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh penjajah, maka pada waktu itu Boedi Oetomo menyuarakan tentang kebebasan dan kesadaran untuk mengeluarkan pendapat melalui banyaknya petisi yang ditunjukkan kepada pemerintah colonial  melalui surat kabar. Lanjut pada masa setelah kemerdekaan dan sampai saat ini HAM terus berkembang sehingga melahirkan produk-produk hukum mengenai Hak Asasi Manusia, baik dibidang pendidikan, ekonomi, politik, social dan budaya.

Lalu ketika kita menganalisis pastinya kita bertanya-tanya sudah sampai manakah keberhasilan  adanya HAM di negara ini, apakah semua masyarakat secara definisi HAM sudah mendapatkan hak yang melekat pada dirinya sebagai anugerah dari Tuhan yang sudah tak bisa dibagi lagi, apalagi di masa pandemi ini sebetulnya apa yang membuat masyarakat masih mengeluh tentang dirinya yang masih melarat, menangis, tertindas seolah-olah kita hanya dijadikan sebagai kuda pengangkut barang milik kaum borjouis di istana sana, apakah masyarakat saat ini dengan bekerja selama satu hari dapat bertahan hidup minimal tiga hari, lalu siapakah yang salah dengan keadaan negara yang seperti ini, apakah masyarakat dengan sifat keluguannya yang terlalu polos dengan hanya diam saja ketika kebijakan di negara ini sedang tidak baik-baik saja, apakah pemerintah yang terlalu nyaman dengan kursi lembutnya sehingga tertidur pulas ketika rapat tentang rakyatnya sendiri sehingga seolah keidealisannya hilang berkat zona nyamannya itu, lalu apakah Tuhan juga bersalah dengan semua ini?
Betapa malunya manusia yang sudah diciptakan dengan sempurna oleh Tuhannya, sudah dimuliakan oleh Tuhannya, sudah diberikan segalanya baik jasmani maupun rohaninya, sudah diciptakan berbeda-beda mulai dari suku, ras, agama dan bangsa agar mereka saling mengenal, terlebih akal dan hatinya yang merupakan jiwa kehidupannya sehingga dia sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk. Dia bisa berpikir dan dia bisa merasa apakah pikiran, gerak dan garuknya berdampak baik ataupun tidak kepada orang lain. Padahal sejatinya Tuhan menciptakan manusia sebagai ‘khalifah fil ardh’ yang ditugaskan mengurus dan menjaga siklus kehidupan di dunia ini. Menciptakan kedamaian antar sesama manusia, saling mengajak gembira sesamanya, apakah masih ada? Atau hanya sibuk beragama tetapi lupa bagaimana caranya bertuhan dengan cara memanusiakan dirinya dan orang lain?
Teringat akan kata-kata yang selalu disampaikan oleh Al maghfurlah Gus Dur, beliau merupakan seorang Ulama’ yang pernah menjabat sebagai presiden di negara ini, dengan waktu yang tidak lama beliau dilengserkan secara inkonstitusional hanya karena inginnya seseorang maupun kelompok yang ingin merebut kekuasaannya. 

Beliau dipertemukan oleh dua keadaan yang mana ketika dia mempertahankan jabatannya maka ribuan orang yang mendukungnya siap mati membelanya, pilihan yang kedua ketika dia memillih untuk melindungi rakyatnya maka siap-siap dia harus  melepas jabatannya. Dengan hal demikian Gus Dur lebih memilih melindungi nyawa rakyatnya meskipun dia harus melepas jabatannya. “ada yang lebih penting dari politik yakni kemanusiaan” tuturnya. Tidak semena-mena orang  yang menjadi pemimpin harus bisa mempertahankan jabatanya sendiri, seorang pemimpin harus mempunyai jiwa pelayan bagi  rakyatnya, jadi pemimpin tak harus  dibela melainkan seorang pemimpin harus membela rakyatnya karena dia dikatakan  sukses menjadi pemimpin bukan karena dia menang, tetapi karena dia diakui oleh rakyatnya.

Ketika kita berkaca untuk saat ini, seolah kata HAM hanya dijadikan sebagai pajangan dan adagium-adagium receh masyarakat yang telah berpendidikan, khususnya mahasiswa. Saatnya mahasiswa bukan lagi sebagai orang yang berusaha untuk selalu kritis, karena mahasiswa memang kritis atau disebut seseorang yang paling idealis. Tetapi bagaimana mahasiswa itu ketika sudah menempati peran yang strategis di masyarakat mampu untuk mempertahankan ke-idealisannya itu, memperbaiki orientasi kekritisannya itu kemana, agar mahasiswa tidak hanya belajar ilmu filsafat yang nantinya tidak ada orang yang dapat mengalahkan pendapatnya, mahasiswa belajar ilmu hukum agar nanti tidak terkena hukuman, mahasiswa belajar ilmu politik agar nanti mudah untuk mendapatkan kekuasaan, mahasiswa belajar ilmu agama agar nanti  tidak masuk neraka. Hal itulah yang membuat HAM ini tidak berjalan, artinya masih ada rasa individualitas agar hak-hak pribadinya terpenuhi. Jadi seakan-akan dia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Tidak bisa mengorientasikan tujuan belajarnya agar dia berguna bagi masyarakat. Atau tidak bisa menempatkan diatas segalanya melainkan hanya terciptanya kebaikan-kebaikan yang ada dilingkungannya yang sejatinya lingkungan itu merupakan dirinya.

Maka perlu untuk saat ini, generasi-generasi penerus bangsa memperbaiki orientasi belajar dan prosesnya agar visi yang menjadi tujuan jangka panjangnya bisa memperbaiki tatanan-tatanan yang hanya menguntungkan sebagian pihak. Perlu kiranya di dalam diri kita sendiri mempunyai sifat kepemimpinan yang sosialis-demokratis. Sosialis bukan berarti komunis tetapi ada rasa beban moral yang harus kita perjuangkan demi tegaknya HAM ini. karena di dalam islam sendiri ada suatu point yang menjadi tuntutan persaudaraan kita selama hidup didunia yakni, ada rasa persaudaraan antar sesama muslim, persaudaraan  antar sesama warga negara dan yang paling tinggi adalah persaudaraan kita antar sesama manusia. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memanusiakan manusia. Demokratis bukan berarti kita hanya berkuasa diatas rakyat, tetapi bagaimana kita menempatkan hak atau kepentingan semata-mata hanya untuk rakyat. 

Ada dua penyakit yang saat ini mulai menggerogoti calon Agent of Change dan Agent of Control yakni, pragmatism dan hedonism. Ada yang mengatakan bahwa keduanya adalah saling berkaitan ketika kita pragmatis maka kita hedonis, dikala kita hedonis maka kita juga pragmatis. Dua penyakit tersebut ibaratkan dua sisi mata uang yang berbeda namun menjadi satu didalamnya tak dapat dipisahkan. Sangat sulit untuk memutus kedua penyakit tersebut, tetapi minimal kita bisa mengurangi penularannya dimulai dari diri kita sendiri menjadi orang yang mandiri, tidak melulu menggantungkan kehidupan kita kepada orang lain, terlebih kita mampu membantu dan membela hak-hak yang harus dimilliki oleh orang lain.
Tuhan sudah tak pantas untuk dibela, melainkan kita cukup memuji dan mengabdi padanya. Tuhan telah memberikan kebaikan di setiap lini kehidupan. Kebaikan tuhan tidak akan nampak ketika kita tidak bisa berlaku baik kepada ciptaannya….

Penulis:
IMRON RASYIDI

Selasa, 08 Desember 2020

Aspal Hitam

Secercah molekul jiwa menggebu
Seakan-akan patah buah, pucuk dedaunan
Hingar bingar harapan indah tak bersemi
Sungguh pinta Doa berharap
Hati tak sanggup membendung rasa
Apalah daya jiwa seakan-akan membeku
Kebingungan semangkin mengbelenggu
Darah segar mengalir bergelora
Tak sanggupku bendung

Aku tak tahu
Secercah cahaya hitam menenggelamkan jiwa
Berbagai pasukan khusus terbaik kaukerahkan
Seakan-akan berontak dengan gelapnya harapan
Upah minimum kau kurangi
Gelap hati tak sanggup lagi menahan diri
Apakah ini suatu bentuk belas kasih untuk kami
Outsourcing kau berlakukan
Tapi kau tak melirik kearah tengah gejolak ekonomi
Jika engkau mengaku sebagai penggerak Revolusi
Tapi, kenapa kau lupa dengan rakyat?

Kau tau??
Kami terluka karena tingkah lakumu
Pedagang-pedagang kecil tertindas
Laron-Laron kecil bertebangan
Seakan-akan buta didepannya ada benda menghalangi
Sungguhku terbuai dengan gemerlapnya dunia
Dengan diselingi pecahan-pecahan harapan
Bersenggama dengan seksi harta dunia

Wahai Tikus-tikus berdasi
Aku titipkan molekul embun harapan
Kuasamu hanyalah sebatas pengahambaan
Kau berorasi didepan kami, dengan penuh khidmat
Tapi, kau lupa siapa yang menjadikanmu sebagai sultan
Apakah Perundang-undangan yang kau buat,
Bisa merubah posisi kami dengan keluh kesah kami?

Secercah butir debu...
Harapan kami menggebu-gebu
Tertatih dengan ucapan sholawat nabi mengiringi
Bersatu dengan keindahan luasnya keindahan alam
Jika sendi-sendi sektor Nusantara kian bereskplorasi
Tatanan yang semangkin berpolusi
Apakah ini bentuk kesuksesan yang abadi?
Sendi-sendi sektor dunia piawai memainkan testimoni kehidupan
Harta, Tahta dan Agama kau pertaruhkan
Seakan tak bersembilu
Meruntun segala-galanya

Oh, Tuhan....
Kapan kau sadarkan para penerus ke Khalifahan bumi pertiwimu
Ku tatihkan doa-doa kepadamu
Merdeka kan lah kami
Iringi kami ke jalan kesejahteraan 




Sang_Penyair
Abdul Wafi
Anggota Rayon Avicenna
 
Bondowoso, 1 Desember 2020

Apa Kabar Pria Berdasi ?

Apa kabar pria berdasi ?
Sudah sadarkah kau tentang hidup
Ya tentang hidup,
Hidup orang lain yang tak kau anggap
Hidup orang lain yang saat ini sengsara
Sudah kenyangkah kau dengan rasa pahit
Pahit yang dialami orang lain
Kau hanya bisa tertawa
Dengan bangga tanpa sebuah penyesalan 
Aku juga ingin bertanya kepadamu wahai pria berdasi
Masih ingatkah kau kepada tuhan ?
Atau kau sudah lupa kepada tuhan yang menakdirkanmu menjadi bangsawan
Ingatlah..
Kau ada karena tuhan 
Kau ada karena orang yang saat ini sengsara
Sadarlah....
 hidup hanya sekedar fana
Karena matimu tak akan selalu bersama dengan keindahan dunia 

Penulis:
KANG NOUV

Senin, 07 Desember 2020

Masihkah Ada Jalan



Ada jiwa-jiwa kelam yang bersembahyangan di atas sajadah
Menyerukan suara-suara tangisan dalam hati

"Ya allah, ampun hamba."

Terucap melalui lisan, menyentuh hati, terfikirkan oleh angan
Akankah tersampaikan permohonan ini?
Bibir bergemetar, tak kuat akan perlakuan diri
"Ya allah."

Hambanya mulai kebingungan
Karena, dirinya selalu terangkap dalam dosa besar
Dosa kecil diambang kebiasaan
Inikah drama kehidupan?

Semayam, bersujud di sepanjang malam terus di lakukan
Tundukkan kepala, tengadah tangan menjadi saksi peradaban
Sekian lama, harta dan tahta menjadi mata pencaharian
Sungguh biadab, namun sekarang tersadarkan

Permohonan...
Ya sebuah permohonan, tiada hentinya dilantunkan
Akankah sampai kepada Tuhan?

"Ya Allah terimalah permohonan hamba, walau bergelimang dosa. Bukakan pintu surga kelak, terpantaskan untuk hamba, jangan neraka."

Jungkir balik di tepi jalan
Putus asa seakan menjadi teman jalan
Hanya ada satu jalan, pintu pertaubatan

Maka...
Carilah kebaikan
Buanglah kemudharatan

Godaan setan terus menghujam
" Hey siapa suruh kau mengikuti perkataan dia, dia berada di jalan yang akan membawamu ke dalam lubuk kemaksiatan."

Hati mulai riuh
Raga seakan runtuh
Di landa pilihan
Tetaplah fokus pada tujuan
Langkahkan pada jalan yang di ridhoi Tuhan.

Tuan setan terus menipu
Ya, itulah tipu daya
Biarkan ocehan menyimpang
Tetap teguh pada ajaran

Rutinitas menjadi prioritas
Yasin dilantunkan dengan khidmat
Bintang-bintang berdzikir di kedipannya
Suara-suara binatang melentingkan pujian untuk Tuhan
Anakku masih menempuh pendidikan
Duduk diatas kursi menyelesaikan tugas sekolahnya

Sedangkan, bapaknya yang kadang terjebak pada kegemerlapan

"Ya Tuhan, tuntun hamba pada jalan yang benar."

Bisikan warga terus berdenging di telinga

"Si Fulan, kerjaannya tak jelas, gimana mau naik kelas. Membimbing keluarga saja tidak tegas. Memberikan contoh yang tidak waras."

Kebencian bertebaran
Mundur aslah sebuah pengkhianatan
Maju membawa perubahan
Instropeksi berikan penyaksian
Akan jalan kembali pada Tuhan
Masihkah ada jalan?

Minggu, 06 Desember 2020

Ada Apa Dengan Perasaan

    Ada Apa Dengan Perasaan

    Semudah inikah sebuah perasaan yang kau sakiti seperti ini, pernahkah kau ditinggalkan hanya karena kau tak berbakat dalam menerjemahkan perasaan seseorang? Pernahkah kau harus berjalan mundur secara teratur karena kebaikanku yang terlalu lugu untuk menganggap semuanya baik-baik saja? Pernahkah kau dihadapkan dengan sebuah pilihan, namun ketika kau memilih salah satu di antaranya maka kau kehilangan semuanya?
    Aku yang katanya ditakdirkan memiliki kepekaan yang tinggi hanya bisa dalam kebodohan bahwa aku terlalu erat menggenggam hingga kamu enggan. Aku harus segera berkemas agar potongan hati kita tak lagi tercecer di jalan. Kamu sudah lama berkemas rupanya sampai-sampai kini engkau sudah siap dengan perjalanan hidup yang baru. Segera pergilah! Bukankah kau tahu bahwa seluruh wanita di dunia memiliki kode yang aneh. Tak mengapa aku melepasmu. Pergilah! Sebelum kau mengerti kode itu, karena aku takut kau lupa bahwa aku salah satu yang tidak mengetahui kode perempuan.
    Akhirnya setelah sekian lama aku tumbuh dengan perasaan berdebar, kini aku harus membunuhnya dengan tak sabar. Aku sempat berpikir tentang kejadian di mana kamu lebih memilih berteman. Aku hanya bisa tesenyum kecut dengan alasan palsumu itu. Jika aku mengingatnya aku tak bisa berkata apa-apa. Jangankan untuk  berkata, “aku sakit hati” berkata, “hai” saja ketika bertemu denganmu lidahku kelu semenjak melihat saat itu kau bersamanya. Aku ingin marah ketika kamu memutuskan ikatan yang sudah susah payah aku pertahankan. Tapi sebuah perasaan tidak bisa mengatakan apa apa untuk mengeluarkan semuanya.
    Kamu takut aku terlalu masuk dalam hidupmu, mungkin juga kau takut bahwa aku akan menggantikan posisi sahabatmu. Sepenting itu ternyata arti sahabat bagimu. Entah aku harus merasa beruntung pernah mencintai perempuan bersolidaritas tinggi atau bahkan menyesal karena pernah mencintai perempuan yang tak tahu mana bedanya teman rasa pacar. Bahkan kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk mengatakan bahwa kau sama sekali tak perlu merasa rugi dalam posisi ini, karena tak akan ada yang  bersedia bersaing dengan kawan yang sudah lama berada didalam bagian hidupmu. Aku yang harus mencoba mengubur kuat-kuat rasa menyakitkan itu. Sekali lagi aku gagal membuatmu mengerti. Kamu hanya mengerti jika kamu memutuskan semua ini maka tak akan ada yang tersakiti.
    Keputusanmu awalnya membuatku jatuh. Namun, lambat laun aku akan sadar bahwa keputusanmu sangat bijak. Pernah suatu sore aku melihatmu tertawa lepas dengan sahabatmu itu. Kamu selalu tersenyum ketika dia berceloteh riang kepadamu. Sesekali kamu mengelus rambutnya karena tersipu waktu kamu memandangnya dengan lekat. Kamu yang terus menggenggam tangannya seakan akan kau takut ia terlepas. Ah, Lia, maafkan aku yang diam-diam masih memperhatikanmu. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu saat jauh dariku. Samakah sepertiku? Kalau boleh jujur aku ingin bercerita kepadamu bahwa aku cemburu. Ketika kita masih bersama waktu aku bercerita kamu selalu saja kamu mengabaikan dengan cerita baru tentang sahabatmu dengan senyum manismu. Aku sekuat hati mencoba tersenyum setulus mungkin agar kau tersipu, namun sering kali gagal.  Justru kamu yang sering membuatku tersipu. Aku sadar aku memang telah merebut banyak hal tentang kebahagiaanmu. Aku terlalu menutup mata jika kamu hanya menganggapku pilihan ketika sahabatmu sedang jauh. Wajah tenangmu sama sekali tak menggambarkan rasa lelah akibat kau menahan rindu. Berbeda sekali denganku. Lihatlah! Aku harus memakai wajah tersenyum agar terlihat kuat. Aku harus belajar bangkit dan tersenyum gar aku juga dapat terlihat baik-baik saja dilepas olehmu. 
    Bukan perkara siapa yang terlalu jatuh cinta dalam keadaan ini. Bahkan ketika kau membaca tulisan ini kau juga mengerti bahwa perjuanganku untuk memiliki ikatan denganmu tidaklah mudah. Aku diam-diam mengagumimu semenjak kita masih berada dalam awal ketemu. Aku diam-diam terus mengamatimu dari kejauhan. Aku tak berani bertegur sapa denganmu. Aku hanya bisa diam sembari mempelajari keadaan. Aku tak bisa berbuat seperti kebanyakan yang dilakukan orang-orang ketika jatuh cinta. Merayu? Aku takut bukannya kau tersipu malah kamu terganggu. Menyatakan cinta sesungguhnya? Aku yang kodratnya hanya untuk bersabar. Aku hanya dapat menunggu hingga jarak dan waktu bersedia mendekatkan. Hingga waktu itu pun tiba saat kamu berada dalam satu organisasi denganku. Seiring berjalan waktu kita dekat lalu entah bagaimana caranya kamu tiba-tiba mengatakan bahwa aku menyukaimu dan kita memutuskan untuk membuat ikatan yang pada akhirnya menjerat kita terlebih hatimu.
    “Bagaimana kalau kita berteman saja, Di?” ucapnya dengan kepala tertunduk.
    “Berteman bagaimana maksudmu?”
    “Kita ubah ikatan kita menjadi pertemanan saja agar kita lebih bebas dan tidak ada yang tersakiti satu       sama lain.”
    “Kita bebas? Atau kamu yang ingin bebas sendiri?”
    “Aku tak mau membuat keputusan yang salah lagi, aku sadar bahwa aku dibutakan oleh cinta                   sampai-sampai sahabatku merasa aku berubah. Aku tak mau itu terjadi.”
    “Cinta buta? Kamu tidak buta tapi aku yang buta, Di. Benar ini keputusan yang salah jadi pergilah,           Di! Jangan membuat sahabatmu kehilangan sama sepertiku juga.” ucapku dengan sedatar mungkin         agar aku tak terlihat lemah.
    “Kamu pasti mendapatkan yang lebih baik daripada aku, Di. Maaf sudah membuatmu kecewa dan            terima kasih sudah mengajariku tentang perbedaan rasa sayang sebagai sahabat atau bukan.”
    Aku akan mendapatkan yang lebih baik, Di. Sekarang aku mengerti mengapa ketika seorang perempuan dan laki-laki ketika bersahabat banyak yang kalah oleh perasaan cinta, yang kalah ialah yang jatuh cinta terlebih dahulu, karena dalam persahabatan perasaan nyaman, cinta, dan cemburu terlihat abu-abu. Tak akan ada yang bisa menyalahkan dalam sebuah perasaan cemburu kepada sahabat. Semua perasaan mereka yang lebih dari sekedar sahabat ditutupi oleh alibi “status persahabatan”.
Rasanya memang menyakitkan ketika kita dilepaskan dan sudah terbuang dari pilihan. Namun, bagaimana sakitnya hidup harus tetap berjalan bukan? Aku terlalu sibuk memperbaiki diri di depan matamu. Hingga aku lupa bahwa aku juga memperburuk diri dengan keadaan rapuh seperti ini di depan matamu. Aku butuh waktu untuk melupakan hingga aku harus berdamai dengan ikatan yang benar-benar terputus. Tak ada yang salah memang ketika seseorang yang pernah berdebar pada perasaan kemudian harus terpisah karena suatu alasan harus bersikap layaknya orang tak kenal. Bukan karena masih cinta atau saling menyalahkan. Namun, memang di sudut hati yang paling absurd bernama kenangan terkadang seakan menjadi radius tersendiri untuk membentengi diri kita dengan pencipta kenangan.
    Sebenarnya terlepas darimu bukanlah perkara yang mudah. Aku harus mengubur dalam-dalam. Menangis diam-diam. Aku tahu rasanya mendapatkan sesuatu agar ikhlas melepaskan untuk orang lain. Kamu memang benar kita adalah sebuah kesalahan. Aku takkan mengingat rasa sakitnya. Percuma, jodoh sudah ditentukan dalam hati masing-masing orang. Seberapa lama kamu tertawa dengan orang lain, aku akan menunggu tawanya reda. Jika bukan, sederhana kita hanya perlu mengingat jika kita mempunyai serumit masa lalu, saling merasakan dalam diam, kamu diam dengan perasaan lepasmu dan aku diam dengan perasaan rumitku. Kita pernah menjalankan bersama waktu di mana kamu memutuskan untuk mengatakan bahwa sudah waktunya kita berpisah. Kita sudah terlalu lama jauh dan terdiam. Suatu saat nanti dalam kisah ini kamu harus tahu bahwa terkadang laki-laki harus lebih merasa karena pada hal terentu wanita tidak bisa bersuara.

-TAMAT-


Bionarasi Penulis : 
Dedi Handhika, lahir pada tanggal 02 Desember 1999 di Bondowoso, Jawa Timur Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam di kampus STAI AT TAQWA, Suka dengan penuh tantangan dan perjalanan yang menghasilkan sebuah pengalaman.
“Jangan jadikan hidup ini seperti angin yang mengikuti arus dan juga seperti batuu yang hanya bisa terdiam diri namun jadilah seperti pohon berdiri namun memiliki manfaat”

Kuliah Bukan Hanya Di Kampus, Di PMII Juga Bisa Kuliah



Di masa pandemi ini, berbagai instansi maupun lembaga khususnya di pendidikan masih menggunakan pembelajaran daring (dalam jaringan) yang juga bisa disebut belajar online atau belajar dari rumah. Sehingga membuat pelajar maupun mahasiswa kurang begitu optimal dalam proses pembelajarannya,  karena berbagai faktor yang membuat pembelajaran di masa ini tidak efektif dan efisien. Maka pelajar maupun mahasiswa juga perlu mencari referensi belajar yang lebih luas.

Organisasi ekstra kampus khususnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bisa dijadikan sebagai wadah mahasiswa untuk mengembangkan potensinya,  mengembangkan pengalaman dan intelektualnya sehingga selain belajar di kampus mereka juga bisa kuliah di organisasi PMII tersebut. 

Salah satu kegiatan PMII khususnya di Rayon Avicenna STAI At Taqwa Bondowoso setiap minggunya mengadakan Anjangsana yanag mana acara tersebut merupakan kegiatan rutinan rayon. Anjangsana tersebut merupakan kegiatan saling mengunjungi rumah antar anggota dan juga pengurus.

PMII Rayon Avicenna kembali melaksanakan acara anjangsana yang ke-2. Yang mana dalam anjangsana ke-2 kali ini bertempat di kediaman sahabat Abdul Wafi selaku Ketua Angkatan 'Preman'. Kediaman sahabat Abdul Wafi tersebut berada di Desa Pornama Tegal Ampel, Bondowoso (06/12/2020).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh segenap pengurus maupun anggota. Sahabati Sofiyatul Hasanah selaku Ketua Rayon Avicenna dalam sambutannya menyampaikan bahwasanya kegiatan Anjangsana tersebut sudah dilaksanakan sejak tahun 2015 dan sampai saat ini masih diistiqomahkan. Alasan diadakannya Anjangsana tersebut adalah sebagai ajang silaturrahmi kepada anggota terutama orang tua kader. Agar orang tua juga mengetahui kegiatan yang ada di PMII.

"Anjangsana ini kami lakukan dengan tujuan untuk menyambung silaturrahmi kepada orang tua dan anggota agar orang tua kita juga tau bahwa kita bukan hanya keluyuran tidak jelas. Tetapi apa yang dilakukan oleh kader PMII selama ini adalah hal yang produktif" Ucapnya. 

Selain itu, organisasi PMII juga menjadi wadah mahasiswa untuk berproses di luar kampus. Karena saat ini mahasiswa yang masih melaksanakan pembelajaran dengan media online juga perlu belajar di luar kampus untuk menambah pengalaman dan wawasan mahasiswa. 

"Karena saat ini kita masih kuliah online, maka di PMII kita juga kuliah,  kita belajar bersama-sama mengembangkan intelektual kita tanpa seformal mungkin" Jelas Ketua Rayon Avicenna Sahabati Sofiyatul Hasanah. 

Untuk kegiatan selanjutnya,  dalam bulan Desember ini Rayon Avicenna akan mengadakan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) yang mana acara tersebut akan diselenggarakan oleh Rayon Avicenna sendiri. Karena kegiatan MAPABA termasuk program kerja (Proker) kepengurusan bidang 1 atau bidang kaderisasi.

Sabtu, 05 Desember 2020

Hawa Masa Pandemi

                             HAWA MASA PANDEMI
                                   Karya : Khotijah

Pernahkah kau berbicara pada hatimu?
Pada jiwamu yang lembut
Bahwa kau dicipta
Tak semerta jadi pendamping Adam di Surga
Perempuan!
Jiwa lembut adalah kekuatan
Penciptaanmu bukan untuk aksesoris surga
Tuhan menginginkanmu memainkan peran serupa
Menyejajarkanmu dengan seorang nabi
Sebagai khalifa fil ardhi
Wahai Hawa
Ibu para wanita
Kini lahir generasimu
Perempuan ayu
Tangguh persis dirimu
Kuat bertahan hidup beribu tahun 
Meski dipisahkan saat pertama diturunkan 
Inilah cicitmu
Hawa masa kini 
Berjuang di tengah pandemi
Pantang gerak dibatasi 
Berbekal emansipasi
Demi Ibu pertiwi 
Karena perempuan sejati tak hanya hidup berdiam diri
Meski katanya hari ini masih pandemi

Pentingnya Tri Fungsi NDP dalam berorganisasi PMII RBA STAI At-taqwa gelar kegiatan SARANG Avicenna ke-09.

  NDP yang berfungsi sebagai Kerangka Refleksi, Aksi dan Ideologis, merupakan Sublimasi nilai keislaman dan keindonesiaan. Sebagaimana ideol...