Minggu, 06 Desember 2020

Ada Apa Dengan Perasaan

    Ada Apa Dengan Perasaan

    Semudah inikah sebuah perasaan yang kau sakiti seperti ini, pernahkah kau ditinggalkan hanya karena kau tak berbakat dalam menerjemahkan perasaan seseorang? Pernahkah kau harus berjalan mundur secara teratur karena kebaikanku yang terlalu lugu untuk menganggap semuanya baik-baik saja? Pernahkah kau dihadapkan dengan sebuah pilihan, namun ketika kau memilih salah satu di antaranya maka kau kehilangan semuanya?
    Aku yang katanya ditakdirkan memiliki kepekaan yang tinggi hanya bisa dalam kebodohan bahwa aku terlalu erat menggenggam hingga kamu enggan. Aku harus segera berkemas agar potongan hati kita tak lagi tercecer di jalan. Kamu sudah lama berkemas rupanya sampai-sampai kini engkau sudah siap dengan perjalanan hidup yang baru. Segera pergilah! Bukankah kau tahu bahwa seluruh wanita di dunia memiliki kode yang aneh. Tak mengapa aku melepasmu. Pergilah! Sebelum kau mengerti kode itu, karena aku takut kau lupa bahwa aku salah satu yang tidak mengetahui kode perempuan.
    Akhirnya setelah sekian lama aku tumbuh dengan perasaan berdebar, kini aku harus membunuhnya dengan tak sabar. Aku sempat berpikir tentang kejadian di mana kamu lebih memilih berteman. Aku hanya bisa tesenyum kecut dengan alasan palsumu itu. Jika aku mengingatnya aku tak bisa berkata apa-apa. Jangankan untuk  berkata, “aku sakit hati” berkata, “hai” saja ketika bertemu denganmu lidahku kelu semenjak melihat saat itu kau bersamanya. Aku ingin marah ketika kamu memutuskan ikatan yang sudah susah payah aku pertahankan. Tapi sebuah perasaan tidak bisa mengatakan apa apa untuk mengeluarkan semuanya.
    Kamu takut aku terlalu masuk dalam hidupmu, mungkin juga kau takut bahwa aku akan menggantikan posisi sahabatmu. Sepenting itu ternyata arti sahabat bagimu. Entah aku harus merasa beruntung pernah mencintai perempuan bersolidaritas tinggi atau bahkan menyesal karena pernah mencintai perempuan yang tak tahu mana bedanya teman rasa pacar. Bahkan kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk mengatakan bahwa kau sama sekali tak perlu merasa rugi dalam posisi ini, karena tak akan ada yang  bersedia bersaing dengan kawan yang sudah lama berada didalam bagian hidupmu. Aku yang harus mencoba mengubur kuat-kuat rasa menyakitkan itu. Sekali lagi aku gagal membuatmu mengerti. Kamu hanya mengerti jika kamu memutuskan semua ini maka tak akan ada yang tersakiti.
    Keputusanmu awalnya membuatku jatuh. Namun, lambat laun aku akan sadar bahwa keputusanmu sangat bijak. Pernah suatu sore aku melihatmu tertawa lepas dengan sahabatmu itu. Kamu selalu tersenyum ketika dia berceloteh riang kepadamu. Sesekali kamu mengelus rambutnya karena tersipu waktu kamu memandangnya dengan lekat. Kamu yang terus menggenggam tangannya seakan akan kau takut ia terlepas. Ah, Lia, maafkan aku yang diam-diam masih memperhatikanmu. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu saat jauh dariku. Samakah sepertiku? Kalau boleh jujur aku ingin bercerita kepadamu bahwa aku cemburu. Ketika kita masih bersama waktu aku bercerita kamu selalu saja kamu mengabaikan dengan cerita baru tentang sahabatmu dengan senyum manismu. Aku sekuat hati mencoba tersenyum setulus mungkin agar kau tersipu, namun sering kali gagal.  Justru kamu yang sering membuatku tersipu. Aku sadar aku memang telah merebut banyak hal tentang kebahagiaanmu. Aku terlalu menutup mata jika kamu hanya menganggapku pilihan ketika sahabatmu sedang jauh. Wajah tenangmu sama sekali tak menggambarkan rasa lelah akibat kau menahan rindu. Berbeda sekali denganku. Lihatlah! Aku harus memakai wajah tersenyum agar terlihat kuat. Aku harus belajar bangkit dan tersenyum gar aku juga dapat terlihat baik-baik saja dilepas olehmu. 
    Bukan perkara siapa yang terlalu jatuh cinta dalam keadaan ini. Bahkan ketika kau membaca tulisan ini kau juga mengerti bahwa perjuanganku untuk memiliki ikatan denganmu tidaklah mudah. Aku diam-diam mengagumimu semenjak kita masih berada dalam awal ketemu. Aku diam-diam terus mengamatimu dari kejauhan. Aku tak berani bertegur sapa denganmu. Aku hanya bisa diam sembari mempelajari keadaan. Aku tak bisa berbuat seperti kebanyakan yang dilakukan orang-orang ketika jatuh cinta. Merayu? Aku takut bukannya kau tersipu malah kamu terganggu. Menyatakan cinta sesungguhnya? Aku yang kodratnya hanya untuk bersabar. Aku hanya dapat menunggu hingga jarak dan waktu bersedia mendekatkan. Hingga waktu itu pun tiba saat kamu berada dalam satu organisasi denganku. Seiring berjalan waktu kita dekat lalu entah bagaimana caranya kamu tiba-tiba mengatakan bahwa aku menyukaimu dan kita memutuskan untuk membuat ikatan yang pada akhirnya menjerat kita terlebih hatimu.
    “Bagaimana kalau kita berteman saja, Di?” ucapnya dengan kepala tertunduk.
    “Berteman bagaimana maksudmu?”
    “Kita ubah ikatan kita menjadi pertemanan saja agar kita lebih bebas dan tidak ada yang tersakiti satu       sama lain.”
    “Kita bebas? Atau kamu yang ingin bebas sendiri?”
    “Aku tak mau membuat keputusan yang salah lagi, aku sadar bahwa aku dibutakan oleh cinta                   sampai-sampai sahabatku merasa aku berubah. Aku tak mau itu terjadi.”
    “Cinta buta? Kamu tidak buta tapi aku yang buta, Di. Benar ini keputusan yang salah jadi pergilah,           Di! Jangan membuat sahabatmu kehilangan sama sepertiku juga.” ucapku dengan sedatar mungkin         agar aku tak terlihat lemah.
    “Kamu pasti mendapatkan yang lebih baik daripada aku, Di. Maaf sudah membuatmu kecewa dan            terima kasih sudah mengajariku tentang perbedaan rasa sayang sebagai sahabat atau bukan.”
    Aku akan mendapatkan yang lebih baik, Di. Sekarang aku mengerti mengapa ketika seorang perempuan dan laki-laki ketika bersahabat banyak yang kalah oleh perasaan cinta, yang kalah ialah yang jatuh cinta terlebih dahulu, karena dalam persahabatan perasaan nyaman, cinta, dan cemburu terlihat abu-abu. Tak akan ada yang bisa menyalahkan dalam sebuah perasaan cemburu kepada sahabat. Semua perasaan mereka yang lebih dari sekedar sahabat ditutupi oleh alibi “status persahabatan”.
Rasanya memang menyakitkan ketika kita dilepaskan dan sudah terbuang dari pilihan. Namun, bagaimana sakitnya hidup harus tetap berjalan bukan? Aku terlalu sibuk memperbaiki diri di depan matamu. Hingga aku lupa bahwa aku juga memperburuk diri dengan keadaan rapuh seperti ini di depan matamu. Aku butuh waktu untuk melupakan hingga aku harus berdamai dengan ikatan yang benar-benar terputus. Tak ada yang salah memang ketika seseorang yang pernah berdebar pada perasaan kemudian harus terpisah karena suatu alasan harus bersikap layaknya orang tak kenal. Bukan karena masih cinta atau saling menyalahkan. Namun, memang di sudut hati yang paling absurd bernama kenangan terkadang seakan menjadi radius tersendiri untuk membentengi diri kita dengan pencipta kenangan.
    Sebenarnya terlepas darimu bukanlah perkara yang mudah. Aku harus mengubur dalam-dalam. Menangis diam-diam. Aku tahu rasanya mendapatkan sesuatu agar ikhlas melepaskan untuk orang lain. Kamu memang benar kita adalah sebuah kesalahan. Aku takkan mengingat rasa sakitnya. Percuma, jodoh sudah ditentukan dalam hati masing-masing orang. Seberapa lama kamu tertawa dengan orang lain, aku akan menunggu tawanya reda. Jika bukan, sederhana kita hanya perlu mengingat jika kita mempunyai serumit masa lalu, saling merasakan dalam diam, kamu diam dengan perasaan lepasmu dan aku diam dengan perasaan rumitku. Kita pernah menjalankan bersama waktu di mana kamu memutuskan untuk mengatakan bahwa sudah waktunya kita berpisah. Kita sudah terlalu lama jauh dan terdiam. Suatu saat nanti dalam kisah ini kamu harus tahu bahwa terkadang laki-laki harus lebih merasa karena pada hal terentu wanita tidak bisa bersuara.

-TAMAT-


Bionarasi Penulis : 
Dedi Handhika, lahir pada tanggal 02 Desember 1999 di Bondowoso, Jawa Timur Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam di kampus STAI AT TAQWA, Suka dengan penuh tantangan dan perjalanan yang menghasilkan sebuah pengalaman.
“Jangan jadikan hidup ini seperti angin yang mengikuti arus dan juga seperti batuu yang hanya bisa terdiam diri namun jadilah seperti pohon berdiri namun memiliki manfaat”

Kuliah Bukan Hanya Di Kampus, Di PMII Juga Bisa Kuliah



Di masa pandemi ini, berbagai instansi maupun lembaga khususnya di pendidikan masih menggunakan pembelajaran daring (dalam jaringan) yang juga bisa disebut belajar online atau belajar dari rumah. Sehingga membuat pelajar maupun mahasiswa kurang begitu optimal dalam proses pembelajarannya,  karena berbagai faktor yang membuat pembelajaran di masa ini tidak efektif dan efisien. Maka pelajar maupun mahasiswa juga perlu mencari referensi belajar yang lebih luas.

Organisasi ekstra kampus khususnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bisa dijadikan sebagai wadah mahasiswa untuk mengembangkan potensinya,  mengembangkan pengalaman dan intelektualnya sehingga selain belajar di kampus mereka juga bisa kuliah di organisasi PMII tersebut. 

Salah satu kegiatan PMII khususnya di Rayon Avicenna STAI At Taqwa Bondowoso setiap minggunya mengadakan Anjangsana yanag mana acara tersebut merupakan kegiatan rutinan rayon. Anjangsana tersebut merupakan kegiatan saling mengunjungi rumah antar anggota dan juga pengurus.

PMII Rayon Avicenna kembali melaksanakan acara anjangsana yang ke-2. Yang mana dalam anjangsana ke-2 kali ini bertempat di kediaman sahabat Abdul Wafi selaku Ketua Angkatan 'Preman'. Kediaman sahabat Abdul Wafi tersebut berada di Desa Pornama Tegal Ampel, Bondowoso (06/12/2020).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh segenap pengurus maupun anggota. Sahabati Sofiyatul Hasanah selaku Ketua Rayon Avicenna dalam sambutannya menyampaikan bahwasanya kegiatan Anjangsana tersebut sudah dilaksanakan sejak tahun 2015 dan sampai saat ini masih diistiqomahkan. Alasan diadakannya Anjangsana tersebut adalah sebagai ajang silaturrahmi kepada anggota terutama orang tua kader. Agar orang tua juga mengetahui kegiatan yang ada di PMII.

"Anjangsana ini kami lakukan dengan tujuan untuk menyambung silaturrahmi kepada orang tua dan anggota agar orang tua kita juga tau bahwa kita bukan hanya keluyuran tidak jelas. Tetapi apa yang dilakukan oleh kader PMII selama ini adalah hal yang produktif" Ucapnya. 

Selain itu, organisasi PMII juga menjadi wadah mahasiswa untuk berproses di luar kampus. Karena saat ini mahasiswa yang masih melaksanakan pembelajaran dengan media online juga perlu belajar di luar kampus untuk menambah pengalaman dan wawasan mahasiswa. 

"Karena saat ini kita masih kuliah online, maka di PMII kita juga kuliah,  kita belajar bersama-sama mengembangkan intelektual kita tanpa seformal mungkin" Jelas Ketua Rayon Avicenna Sahabati Sofiyatul Hasanah. 

Untuk kegiatan selanjutnya,  dalam bulan Desember ini Rayon Avicenna akan mengadakan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) yang mana acara tersebut akan diselenggarakan oleh Rayon Avicenna sendiri. Karena kegiatan MAPABA termasuk program kerja (Proker) kepengurusan bidang 1 atau bidang kaderisasi.

Sabtu, 05 Desember 2020

Hawa Masa Pandemi

                             HAWA MASA PANDEMI
                                   Karya : Khotijah

Pernahkah kau berbicara pada hatimu?
Pada jiwamu yang lembut
Bahwa kau dicipta
Tak semerta jadi pendamping Adam di Surga
Perempuan!
Jiwa lembut adalah kekuatan
Penciptaanmu bukan untuk aksesoris surga
Tuhan menginginkanmu memainkan peran serupa
Menyejajarkanmu dengan seorang nabi
Sebagai khalifa fil ardhi
Wahai Hawa
Ibu para wanita
Kini lahir generasimu
Perempuan ayu
Tangguh persis dirimu
Kuat bertahan hidup beribu tahun 
Meski dipisahkan saat pertama diturunkan 
Inilah cicitmu
Hawa masa kini 
Berjuang di tengah pandemi
Pantang gerak dibatasi 
Berbekal emansipasi
Demi Ibu pertiwi 
Karena perempuan sejati tak hanya hidup berdiam diri
Meski katanya hari ini masih pandemi

Jumat, 04 Desember 2020

Sepucuk Surat Untuk Tuan

                         Sepucuk Surat Untuk Tuan
                     Oleh : Syah Rony Amalia febianti


Dari Puan Yang Sering Tuan Rendahkan
Hei Kami Ini Bukannya Tidak Bisa Di Posisimu
Menjadi Seperti  Tuan Kami Juga Mampu
Cari Uang, Angkat Galon,  Pasang Gas Hanya Sebagian Kecil Bukti
Bahwa Kami Mampu Berdiri Di Kaki Sendiri
Atau Rekam Jejak Puan-Puan Lainnya Juga Sudah Berbicara
Ibumu, Kartini, Marsinah, Dewi Sartika Tuan Harus Menolak Lupa
Tak Seperti Tuan, Kami Selalu Di Repotkan Dengan Pilihan-Pilihan Pembunuh  Impian
“Karir Melejit Atau Calon Istri Gesit”, “Mahasiswa Organisasi Atau Anak Yang Berbakti”
Pilihan Itu Seolah-Olah Mendikte Puan-Puan Ini Untuk Melayani Tuan Di Masa Nanti
Solah-Olah Juga Hanya Tuan Yang Boleh Mencari Rejeki Dan Unjuk Gigi
Dari Puan Yang Nanti Akan Tuan Gauli,
Kami Perjuangkan Pendidikan Dan Karir Kami Bukan Untuk Menyaingi
Apa Tidak Ingin Tuan Punya Generasi Yang Mumpuni Dari Puan Ini?
Mari Pikirkan Lagi



Selasa, 01 Desember 2020

Segelintir Mahasiswa Yang Belum Sadar Akan Fungsi dan Perannya

Banyak orang yang melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi pasca setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), yang di sebut-sebut sebagai MAHASISWA DAN MAHASISWI.

Merekalah para pemuda dan pemudi yang akan melanjutkan regenerasi orang-orang hebat yang sekarang menjadi orang besar bisa dikatakan pejabat, mereka adalah pilihan rakyat yang ada di pemerintahan yang diamanahi untuk memimpin negara, yang kebanyakan orang-orang besar itu pun kurang memerhatikan kepada masyarakat bawah.

Mahasiswa yang berhasil dalam mengemban amanah yang sudah melekat dalam dirinya sebagai MAHASISWA dikatakan berhasil bukan di ukur dari nilai A yang di dapat, tetapi mahasiswa yang berhasil apabila sudah melakukan suatu perubahan di negeri tercinta ini, INDONESIA.

Sedikit bahkan minim sekali mahasiswa yang sadar akan perannya sebagai mahasiswa, yang katanya MAHASISWA sebagai Iron Stock memiliki kepribadian yang baik, akhlak yang terpuji sebagai generasi muda yang hendak nantinya akan melanjutkan kepemimpinan indonesia di tahun yang akan datang. Dan pada faktanya mahasiswa sekarang krisis akhlak, itu yang pertama.

Yang kedua mahasiswa masih belum sadar juga akan peran dan fungsi setelah menyandang titel MAHASISWA, sangkanya yang di katakan mahasiswa hanya kuliah kuliah dan kuliah, bukan hanya itu, tetapi MAHASISWA sebagai Agen Of Change Agen perubahan, miris ketika mahasiswa yang acuh tidak acuh dalam hal perubahan ini, buktinya masih banyak mahasiswa yang beberapa bulan kemaren ada kebijakan yang kurang pro kepada masyarakat bawah tetapi masih banyak mahasiswa yang tidak ikut andil dalam menyuarakan kebenaran.

Mahasiswa adalah tangan kanan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi yang dirasa kurang pro kepada masyarakat itu sendiri, sebenarnya mahasiswa adalah wakil rakyat yang sesungguhnya.

Untuk itu tulisan ini saya khusukan kepada para mahasiswa dan mahasiswi yang masih belum sadar akan peran dan fungsi sebagai mahasiswa.

Oleh : Muhammad Fathorrozi

An-nisa'

An-nisa'
Namamu telah termaktub 
Dalam kitab Ma'sum lagi Quddus
Perangaimu begitu halus
Bagai silir angin menyapa lembut
An-nisa'
Jemarimu adalah kehangatan
Pelukanmu sebuah kehidupan
Senyummu penebar kedamaian
Kiprahmu ciptakan pergerakan
An-nisa'
Kau rasa dari segala rasa
Kau alasan dari seribu alasan
Kau keindahan dari sejuta keindahan
An-nisa'
Diammu kemanangan
Tangismu bentuk kekuatan
Marahmu suatu kehancuran
Gerakanmu sebuah perubahan
An-nisa'
Kau nada dalam irama
Kau kata dalam frasa
Kau adalah dunia
Selamanya akan tetap sama
An-nisa'
Dengan segala dimensi maknanya...

Bondowoso, 19 November 2020 
Penulis : Lina Sintiya ( Juara III dalam Harlah KOPRI ke-53)

Harapan Terbesar Seorang Anak dan Orang Tua

Tema : Kehidupan Sebuah Keluarga

Harapan Terbesar Seorang Anak dan Orang Tua


Di sebuah Desa, terdapat sebuah keluarga yang berisi Ayah, Ibu dan satu orang anak yang bernama Ani, mereka tinggal di sebuah rumah yang sederhana sekali, saat ini Ani sedang menempuh S1 di perguruan tinggi. Ani bisa di bilang murid yang biasa biasa saja tidak terlalu pintar, Ani berkuliah tidak di bantu oleh beasiswa,  Ani bisa masuk pada perguruan tinggi berkat kegigihan dia sendiri dan tahun depan dia berencana akan mengikuti beasiswa yang ada di universitasnya, dengan begitu dia akan mengurangi beban orang tuanya. Kadang Ani berfikir, kenapa dia tidak ditakdirkan menjadi anak yang cerdas dan pintar seperti yang lainnya,  tetapi Ani sadar dia harus mensyukuri nikmat yang Allah berikan,  dia bersyukur karena sekarang masih diberikan kesehatan serta masih bisa berkumpul dengan orang tua yang lengkap,  baginya kedua orang tuanya adalah penyemangatnya sekarang,  Ani rela jika harus merelakan masa mudanya demi orang tuanya. Orang tua Ani selalu berkata, dia harus menghabiskan masa mudanya seperti yang lain karena masa muda tidak bisa di ulang kembali. Di sisi lain Ani sangat ingin menuruti apa yang di katakan oleh orang tuanya,  dimana sepulang sekolah menghabiskan waktu untuk pergi hangout dengan teman temannya, tetapi Ani sadar bukan saatnya sekarang mementingkan kesenangan dirinya, ada orang tua yang harus Ani banggakan dan bahagiakan, dia ingin mengangkat derajat orang tuanya agar tidak dihina karena keluarganya miskin, dia juga berharap orang tuanya yang sudah berumur berhenti bekerja, biar dia saja yang bekerja dan menghidupi kedua orang tuanya dengan kerja kerasnya sendiri, meskipun dari segi ekonomi mereka masih kurang, tetapi mereka mampu menyekolahkan Ani sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Ayah Ani bekerja di pantai dengan mencari kerang yang nantinya akan di jual kepada pengepul kerang, sedangkan Ibu Ani bekerja sebagai penjual kue, orang tua Ani bekerja dengan sangat keras, mereka akan melakukan apa saja agar Ani bahagia dan tentunya mendoakan Ani agar nanti bisa sukses. Mereka terus berharap agar kelak Ani menjadi anak yang hebat dan pekerjaan Ani jauh lebih baik dari pada mereka, agar Ani tidak mengalami kesusahan lagi dalam masalah ekonomi .
Suatu ketika, mereka sedang mengalami kritis ekonomi, karena penjualan yang biasanya mereka jual kepada pengepul mengalami penurunan dan mengakibatkan kerugian. Ani sangat sedih ketika mengetahui bahwa ayahnya sedang mengalami kerugian, padahal Ani ingin memberi kabar bahwa uang kuliah Ani harus segera di bayar sebelum batas pelunasan, Ani pun menjadi bingung, hingga akhirnya Ani memutuskan untuk berbicara dengan orang tuanya untuk mencari jalan keluar.
Di depan rumah Ani. 
"Ayah". Ucap Ani sambil duduk di samping  ayahnya dan meletakkan kopi yang di buatnya tadi.
 "Iya nak".  Ucap ayah sambil meminum  kopinya.
"Ani ingin berbicara tentang masalah kampus". Ucap Ani takut, di sisi lain Ani ragu untuk berbicara masalah ini kepada ayahnya.
"Bilang saja nak tidak usah merasa takut seperti itu, memangnya kenapa nak dengan kampusmu ?". Tanya ayah penuh tanya kepada Ani.
"Begini ayah, kemarin pihak kampus bilang bahwasanya kita harus segera melunasi uang kuliahnya untuk persiapan ujian kuliah nanti, dan kemarin Ani dengar bahwa penjualan ayah sekarang sedang mengalami kerugian. Jadi, bagaimana ayah bisa mendapatkan uang dalam waktu singkat untuk membayar uang kuliah Ani". Jawab Ani menjelaskan.
"Jadi begitu ceritanya, kamu tidak perlu khawatir nak ayah akan usahakan mencari uang secepatnya untuk membayar uang kuliah kamu". Jawab ayah sambil berusaha menenangkan Ani.
" Emm, iya ayah. Apa Ani bekerja paruh waktu saja ayah agar bisa mengurangi beban ayah?". Usul Ani kepada ayahnya.
"Tidak perlu nak biar ayah saja yang bekerja kamu cukup belajar dengan rajin, ayah akan berusaha agar cepat mendapatkan uang Insyaallah nanti segala niat baik kita dalam berusaha akan di lancarkan oleh Allah SWT. Kamu berdoa saja agar ayah bisa secepatnya membayar uang kuliah kamu". Jawab ayah sambil tersenyum kepada putrinya.
Tanpa mereka sadari ibu Ani dari tadi mendengar percakapan mereka tanpa basa basi lagi ibu Ani langsung saja menanggapi pertanyaan ayah tersebut.
"betul nak, apa yang di katakan oleh ayah kamu, sebaiknya kamu belajar yang giat, masalah uang pasti nanti juga ada nak, sekarang kamu berdoa semoga harga kerang cepat kembali normal. Kamu jangan khawatir kita masih bisa cari uangnya dari jualan kue nak, akhir akhir ini kue ibu laris nak tidak seperti biasanya. Ibu harap semoga penjualannya bertambah setiap harinya. Kita sekarang ini hanya bisa berdoa kepada Allah SWT agar semuanya di lancarkan,  rezeki itu sudah di atur oleh Allah, mungkin saat ini Allah sedang menguji kita nak dan itu tandanya Allah menyayangi kita,  yang kita harus lakukan sekarang adalah sabar nak semua pasti ada jalan". Balas ibu sambil tersenyum kepada Ani.
"Baik ayah Ibu, Ani juga akan berusaha menyempatkan waktu Ani untuk membantu ibu untuk berjualan kue atau bisa saja Ani bawa kue nya ke kuliah kan lumayan bu". Jawab Ani mantap sambil tersenyum senang kepada ibu dan ayahnya.
"Baiklah kalau itu mau kamu, boleh saja kamu membantu ibumu asalkan kamu jangan melupakan kuliah kamu dan jangan lupa kamu juga harus  belajar, sebentar lagi kamu sudah ujian dan nanti jika kamu lelah kamu istirahat saja jangan di paksakan, Mengerti nak?". Jawab ayah menasehati.
"Iya ayah Ani janji kok, Terima kasih ayah Ibu, Ani sayang kalian". Jawab Ani sambil tersenyum lebar dan memeluk kedua orang tuanya.
"Sama sama nak, kami juga sayang sama kamu, ayo masuk sudah hampir maghrib".
Jawab orang tua Ani sambil membalas pelukan Ani.
"Baik ayah". Jawab Ani dan langsung mengikuti orang tuanya masuk.
Akhirnya masalah tentang uang kuliah Ani sudah mendapat solusinya. Ani bertekad ia akan menyempat waktunya untuk membantu ibunya bekerja,  meskipun nantinya dia akan kesusahan untuk mengatur waktunya kuliah, belajar dan membantu ibunya berjualan, tapi dia tidak akan patah semangat demi mewujudkan mimpi orang tua mereka dan menjadi orang yang orang tua Ani banggakan,  biarlah untuk sekarang Ani merelakan masa mudanya, dia akan melakukan apa saja demi membuat kedua orang tuanya bangga. Ani percaya suatu saat nanti Ani akan bisa merubah keadaan orang tuanya, dia akan buktikan kepada semua orang yang telah menghina mereka, bahwa keluarganya juga bisa seperti mereka atau akan lebih dari mereka, itu yang Ani ucapkan saat ini, dan semoga ketika Ani sudah sukses nanti, dia bisa memberangkatkan kedua orang tuanya untuk pergi ke tanah suci Mekkah,  itu janji Ani kepada dirinya sendiri.


BIONARASI PENULIS
Wulanda Ega Novelia bisa dipanggil Ega, orang tua biasa memanggil aku Eg, temanku dan guruku biasa memanggil aku Egak. Lahir 18 tahun yang lalu tepat tanggal 17 November 2002 di Kota Jember. Mempunya hobi menggambar, menulis, menyanyi (Meskipun suara jauh dari kata merdu hehe), mendengarkan musik, dan dance. Saat ini menjadi Mahasiswa semester 1 di salah satu Perguruan Tinggi, yaitu di STAI At-Taqwa Bondowoso, di prodi Manajemen Pendidikan Islam. Dan saat ini masih sedang berproses di Organisasi PMII.

Pentingnya Tri Fungsi NDP dalam berorganisasi PMII RBA STAI At-taqwa gelar kegiatan SARANG Avicenna ke-09.

  NDP yang berfungsi sebagai Kerangka Refleksi, Aksi dan Ideologis, merupakan Sublimasi nilai keislaman dan keindonesiaan. Sebagaimana ideol...